Langsung ke konten utama

(Bukan) Yang Teristimewa

Ada lara didalam dada. Ada yang menyesakkan dada. Begitu sesak. Terhimpit oleh sesuatu yang dinamakan patah hati. 

Setelah semua yang kita lalui bersama. Setelah sekian lama. Dua belas Bulan lamanya. Kini, kau menampakkan diri yang sesungguhnya, kau menjelma menjadi sosok yang sangat sadis. Yang seperti tak punya hati. 


Dengan begitu percaya dirinya, kau membawa seseorang dihadapanku. Seseorang yang mengisi ruangmu di masalalu. Seseorang yang pertama kau sayangi, teramat kau sayangi. Seseorang yang sangat istimewa bagimu. 


Kamu lupa? Dulu kamu dicampakkan olehnya. Oleh seseorang dimasa lalumu itu. Dengan teganya meninggalkanmu demi orang lain, demi orang yang dia ingini. Sewaktu dia jatuh, sewaktu dia sedang berada dititik terbawah hidupnya, dia menghampirimu kembali, mengambil bahumu untuk menjadi sandaran tangisannya. Dia memanfaatkan kebaikanmu untuk keuntungan dia sendiri. Setelah itu, setelah dia merasa sudah tak ada masalah lagi, dia bertemu kembali dengan seseorang yang sangat dia ingini, dia mendapatkannya, lalu dia meninggalkanmu (lagi). 


Aku datang. Kau menyambutnya dengan baik. Kau memperlakukanku dengan baik. Dengan sabarnya, kau memperkenalkanku akan hal-hal baru yang belum aku ketahui. Kau selalu memberiku perhatian-perhatian kecil. Kau selalu mengajakku ke tempat-tempat yang indah. Hingga akhirnya, kamu mengutarakan perasaanmu. Kukira itu hanya candaan, jadi ku iyakan sajalah. Satu bulan, dua bulan, hingga dua belas bulan kita menghabiskan waktu bersama. 


Hingga akhirnya, kamu mematahkan kepercayaanku. Suatu hari, dia (masa lalumu) meminta maaf kepadamu atas apa yang dulu ia perbuat. Lalu kamupun memaafkannya, kamu dan dia terjebak nostalgia. Kamu lupa akan aku. Aku yang sekarang ada disampingmu. Aku yang ada dimasa sekarang mu. Tapi, kurasa kamu benar-benar sudah termakan oleh omongan masa lalumu itu. 


Kamu lupa akan rasa sakit yang dia berikan padamu. Kamu lupa semuanya hanya karena satu patah kata yang ia ucapkan kepadamu. Dan, kamu lupa akan aku. 


Katamu dia cinta pertamamu. Katamu dia istimewa. Haha, ingin rasanya aku menelan rumput-rumput yang ada ditepi jalan raya itu. Aku sempat berfikir. Lalu, aku ini siapa? Aku siapa dimatamu? 


Kamu lupa akan aku. Akan aku yang dulu datang mengobati laramu karna dia. Aku ingin membuat kamu semangat kembali. Aku ingin kamu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan tidak terpuruk seperti itu. Aku berhasil. Kamu sembuh. Tapi, setelah kamu sembuh kamu tak ada kapoknya mengejar seseorang dimasa lalumu itu. Seseorang yang kau anggap istimewa. 


Kini, biarlah aku menahan perihku sendiri. Memikul lara sendiri. Aku tak apa. Sungguh. 


Biarlah yang selalu ada tergantikan dengan yang teristimewa. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serendipity

Hujan yang membasahi bumi, menghapus jejak kepergianmu. Angin yang melambai-lambai kesana kemari. Aku yang melambaikan tangan padamu. Kepada kamu yang memilih pergi.  Kepergianmu yang tak ku sangka sebelumnya. Terlalu jauh. Terlalu susah untuk aku gapai dengan jemariku. Jemari yang beberapa hari lalu kau sematkan diantara jemarimu. Menggenggam erat, hangat, seolah berkata 'aku akan tetap disini bersamamu'. Nyatanya hari ini kamu pergi.  Mengapa secepat ini kamu memutuskan untuk pergi? Padahal baru kemarin kita menyatakan apa-apa yang ada didalam dada. Baru kemarin kita menyatakan apa-apa yang selama ini kita rasakan namun kita pendam lama dan baru bisa tersampaikan. Mengapa sejauh ini kamu pergi? Padahal baru kemarin kita merasa sedekat nadi.  Alam semesta memang suka bercanda kepada kita bukan? Kita dibuatnya terlambat menyadari. Menyadari akan hal-hal kecil yang dulu dipandang sebelah mata, namun kini terasa berarti. Kita dibuatnya terlambat menyadari. Menyadari...