Hujan yang membasahi bumi, menghapus jejak kepergianmu. Angin yang melambai-lambai kesana kemari. Aku yang melambaikan tangan padamu. Kepada kamu yang memilih pergi.
Kepergianmu yang tak ku sangka sebelumnya. Terlalu jauh. Terlalu susah untuk aku gapai dengan jemariku. Jemari yang beberapa hari lalu kau sematkan diantara jemarimu. Menggenggam erat, hangat, seolah berkata 'aku akan tetap disini bersamamu'. Nyatanya hari ini kamu pergi.
Mengapa secepat ini kamu memutuskan untuk pergi? Padahal baru kemarin kita menyatakan apa-apa yang ada didalam dada. Baru kemarin kita menyatakan apa-apa yang selama ini kita rasakan namun kita pendam lama dan baru bisa tersampaikan.
Mengapa sejauh ini kamu pergi? Padahal baru kemarin kita merasa sedekat nadi.
Alam semesta memang suka bercanda kepada kita bukan? Kita dibuatnya terlambat menyadari. Menyadari akan hal-hal kecil yang dulu dipandang sebelah mata, namun kini terasa berarti. Kita dibuatnya terlambat menyadari. Menyadari akan kebetulan-kebetulan yang menimpa kita dulu. Kebetulan-kebetulan yang membuat kita akhirnya merasa dekat. Kebetulan-kebetulan yang membuat kita terbiasa bersama menjadi ingin selalu bersama. Entah ini kebetulan atau sebuah takdir. Aku lebih senang menyebutnya sebagai kebetulan. Serendipity.
Lalu, apakah sekarang kamu pergi juga merupakan kebetulan? Kebetulan alam semesta ingin membentang jarak antara kita berdua.
Yasudah. Jalani sajalah. Ini pilihanmu. Aku harus menghargai itu. Teruntuk kamu, yang memilih pergi jauh, take care ya. Dari aku yang suka makan seblak ceker.
Kepergianmu yang tak ku sangka sebelumnya. Terlalu jauh. Terlalu susah untuk aku gapai dengan jemariku. Jemari yang beberapa hari lalu kau sematkan diantara jemarimu. Menggenggam erat, hangat, seolah berkata 'aku akan tetap disini bersamamu'. Nyatanya hari ini kamu pergi.
Mengapa secepat ini kamu memutuskan untuk pergi? Padahal baru kemarin kita menyatakan apa-apa yang ada didalam dada. Baru kemarin kita menyatakan apa-apa yang selama ini kita rasakan namun kita pendam lama dan baru bisa tersampaikan.
Mengapa sejauh ini kamu pergi? Padahal baru kemarin kita merasa sedekat nadi.
Alam semesta memang suka bercanda kepada kita bukan? Kita dibuatnya terlambat menyadari. Menyadari akan hal-hal kecil yang dulu dipandang sebelah mata, namun kini terasa berarti. Kita dibuatnya terlambat menyadari. Menyadari akan kebetulan-kebetulan yang menimpa kita dulu. Kebetulan-kebetulan yang membuat kita akhirnya merasa dekat. Kebetulan-kebetulan yang membuat kita terbiasa bersama menjadi ingin selalu bersama. Entah ini kebetulan atau sebuah takdir. Aku lebih senang menyebutnya sebagai kebetulan. Serendipity.
Lalu, apakah sekarang kamu pergi juga merupakan kebetulan? Kebetulan alam semesta ingin membentang jarak antara kita berdua.
Yasudah. Jalani sajalah. Ini pilihanmu. Aku harus menghargai itu. Teruntuk kamu, yang memilih pergi jauh, take care ya. Dari aku yang suka makan seblak ceker.
Komentar
Posting Komentar